Sahabat HAM bersama KOPPETA Kawal Gubernur KDM dalam Pembebasan Ketua HMI FH Unisba di Polda Jawa Barat
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M., pada Rabu (3/9/2025) memutuskan untuk memberi jaminan pembebasan Ketua Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (Unisba), Adjie Zhyran Putra Zein kepada Polda Jawa Barat. Adjie sebelumnya ditahan akibat kericuhan antara aparat kepolisian dan mahasiswa di sekitar kampus Unisba pada malam 1 September 2025.
Keputusan pembebasan ini disampaikan langsung oleh Kang Dedi Mulyadi dalam dialog terbuka bersama ratusan mahasiswa di halaman Gedung Sate. Aspirasi mahasiswa diterima sebagai dasar langkah lanjutan. Setelah itu, proses eksekusi pembebasan dilaksanakan di Markas Polda Jawa Barat, Jalan Soekarno-Hatta No.748, Gedebage, Kota Bandung.
Dalam prosesi pembebasan, Kang Dedi didampingi Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., serta Hasbullah Fudail, S.H., M.Si. — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Jawa Barat yang kini juga dikenal luas sebagai Sahabat HAM — dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Buky Wibawa, M.Si.
Selain itu, hadir pula delegasi Komunitas Pemuda Pelajar Pencinta Hak Asasi Manusia Jawa Barat (Koppeta HAM Jabar), termasuk Muhammad Damar Setyo Kumoro. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk memastikan proses pembebasan berlangsung transparan, berkeadilan, serta bebas dari potensi pelanggaran hak asasi manusia. Sebagai sesama pemuda dan mahasiswa, Kumoro bersama Koppeta HAM Jabar turut mengawal jalannya peristiwa ini sebagai wujud solidaritas terhadap gerakan mahasiswa serta komitmen pada nilai-nilai HAM.
Langkah ini dipandang sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah untuk menjaga ruang demokrasi tanpa mengorbankan hak sipil masyarakat. Dedi Mulyadi menegaskan, stabilitas politik tidak boleh dicapai dengan menutup ruang kritik mahasiswa. Pembebasan juga menjadi sarana memperkuat komunikasi antara pemerintah dan generasi muda.

Usai pembebasan, Sahabat HAM Hasbullah Fudail meninjau dapur umum Polda Jawa Barat yang beroperasi selama enam hari kericuhan. Kegiatan ditutup dengan salat Asar berjamaah bersama Kapolda Jawa Barat, dilanjutkan dengan pengajian dan pembacaan Yasin sebagai doa untuk keselamatan serta kesejahteraan negeri.

Dengan demikian, peristiwa ini bukan hanya menandai meredanya ketegangan pascakericuhan, tetapi juga menegaskan pilihan pemerintah untuk mengedepankan jalur dialog ketimbang tindakan represif.