thumb
  • Admin 2
  • Kegiatan
  • 04 September 2025
  • 159

KOPPETA HAM Jawa Barat Membersamai Dialog Aspirasi Mahasiswa bersama Gubernur Dedi Mulyadi di Gedung Sate

BANDUNG – Suasana halaman Gedung Sate, Rabu (3/9/2025) pagi, menjadi arena terbuka bagi ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Barat untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada jajaran pimpinan daerah. Forum dialog ini dipimpin oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dan turut dihadiri Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Wakil Ketua III DPRD Jabar Ono Surono, Kapolda Jabar, Pangdam, jajaran pejabat eselon II Pemprov, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Jawa Barat, Hasbullah Fudail yang dikenal sebagai Sahabat HAM. Hadir pula delegasi Komunitas Pemuda Pelajar Pencinta Hak Asasi Manusia (KOPPETA HAM) Jawa Barat, termasuk Muhammad Damar Setyo Kumoro, Deputi Pengembangan Organisasi.

Acara dimulai sekitar pukul 09.45 WIB dengan format sederhana: mahasiswa duduk lesehan di atas karpet di halaman depan Gedung Sate, sementara para pejabat mendengarkan satu per satu perwakilan kampus yang maju menyuarakan pandangan. Kritik dan aspirasi tetap mengalir dengan lantang, meski teriknya matahari semakin menyengat.

Pada pertengahan dialog, sejumlah mahasiswa mengusulkan agar forum dipindahkan ke dalam gedung karena panas yang kian menyulitkan jalannya diskusi. Usulan tersebut langsung disetujui oleh gubernur, dan forum kemudian dilanjutkan di aula utama Gedung Sate. Perpindahan ini menciptakan suasana yang lebih nyaman dan kondusif, tanpa mengurangi semangat kritis mahasiswa maupun keterbukaan pejabat dalam mendengar.

Isu yang diangkat mahasiswa tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga menyentuh problem kedaerahan. Dari sorotan kenaikan tunjangan DPR dan dugaan praktik korupsi, hingga tambang ilegal dan pungutan liar di destinasi wisata Jawa Barat. Mereka juga menyinggung soal penyimpangan dalam distribusi makanan pendamping, serta praktik represif aparat kepolisian saat mengamankan aksi demonstrasi, termasuk insiden kericuhan yang sebelumnya terjadi di kampus Unisba dan Unpas.

Kritik keras juga diarahkan pada program makan bergizi gratis dari pemerintah pusat. Mahasiswa menilai kualitas makanan yang disalurkan tidak hanya buruk, tetapi bahkan ada yang terindikasi beracun. Hal ini justru dianggap mengkhianati cita-cita membangun generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

Di antara pernyataan yang mengundang perhatian, seorang mahasiswa menyampaikan pandangan filosofis: “Indonesia tidak menyala karena obor yang ada di Jakarta, namun lilin-lilin kecil yang ada di daerah.” Ucapan ini disambut tepuk tangan peserta, menegaskan pentingnya memperhatikan aspirasi daerah sebagai kekuatan utama dalam pembangunan nasional.

Meski sebagian kritik disampaikan dengan nada keras, jalannya dialog tetap berlangsung kondusif. Aparat keamanan mengawal ketat area Gedung Sate, namun interaksi antara mahasiswa dan pejabat berjalan tanpa insiden.

Dalam kesempatan itu, Sahabat HAM Hasbullah Fudail menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar mendampingi gubernur, tetapi juga untuk memastikan jalannya forum sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Ia menekankan bahwa setiap peserta memiliki hak yang sama untuk berbicara, menyampaikan pendapat tanpa intimidasi, dan didengarkan dengan serius. Pernyataan tersebut diamini oleh perwakilan Koppeta HAM Jabar, Muhammad Damar Setyo Kumoro, yang menegaskan bahwa kehadiran pemuda HAM dalam forum ini adalah untuk memastikan kritik mahasiswa tetap berada dalam koridor kebebasan berekspresi yang sehat.

“Dialog seperti ini menjadi momentum agar mahasiswa tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga menawarkan solusi. Pemerintah, termasuk kami di Kementerian HAM, berkewajiban memastikan ruang partisipasi publik tetap terbuka dengan prinsip non-diskriminatif dan sejalan dengan penghormatan HAM,” ujar Hasbullah.

Meski ada pula kritik bahwa acara ini bersifat terbatas karena hanya melibatkan kalangan mahasiswa tanpa mengundang lapisan masyarakat lain, kehadiran para pemimpin daerah, lembaga negara—serta partisipasi aktif Koppeta HAM Jabar—membuat forum ini menjadi salah satu contoh praktik komunikasi publik yang lebih langsung dan terbuka.

Dengan berakhirnya rangkaian penyampaian aspirasi menjelang siang, forum ini meninggalkan catatan bahwa ruang dialog antara mahasiswa dan pemerintah masih relevan sebagai jembatan komunikasi politik, sembari menegaskan kembali pentingnya peran lembaga negara dan komunitas pemuda HAM dalam mengawal penghormatan terhadap hak-hak sipil warga Jawa Barat.