Koppeta HAM Dukung Implementasi P5HAM di Cianjur
Suasana di Aula Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, terasa hangat pada Minggu (5/10/2025) siang. Di tengah kesederhanaan ruangan, puluhan peserta tampak serius mengikuti dialog bertajuk “Mewujudkan Masyarakat Sadar Hak Asasi Manusia melalui Implementasi P5HAM”. Bukan soal proyek atau politik yang jadi bahan obrolan, tapi tentang hal yang lebih mendasar, manusia dan hak-haknya.
Kegiatan yang digelar Anggota DPR RI Komisi XIII, Isfhan Taufik Munggaran, bersama Kanwil HAM Jawa Barat itu dihadiri Komunitas Pemuda Pelajar Pecinta Hak Asasi Manusia (Koppeta HAM).
Dalam penyampaiannya, Isfhan menegaskan bahwa hak asasi manusia tidak boleh berhenti sebagai wacana belaka.
“HAM bukan sekadar konsep di atas kertas, ia adalah napas keadilan yang harus hidup di tengah masyarakat. Pembangunan manusia sejati harus berpihak pada kemanusiaan dan tidak boleh meninggalkan siapa pun,” ujarnya.
Sementara itu, Hasbullah menyoroti masih adanya tantangan nyata dalam pemajuan HAM, terutama di wilayah yang berhadapan dengan ketimpangan ekonomi.
“Banyak persoalan sosial yang berujung pada intoleransi sebenarnya berakar dari ketimpangan kesejahteraan. Karena itu, kami bersama Koppeta HAM berupaya memastikan hak dasar masyarakat pendidikan, kesehatan, dan akses keadilan terpenuhi dengan baik,” terangnya.
Ia juga menilai, kehadiran Koppeta HAM menjadi mitra penting dalam memperkuat advokasi dan pendidikan HAM di tingkat lokal.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja administratif, tapi gerakan sosial yang menumbuhkan kesadaran bersama,” imbuh Hasbullah.
Dari Cianjur sendiri, semangat itu turut digelorakan oleh Zidan Fathur Rahman, bagian dari Koppeta HAM Jawa Barat. Ia menyebut, kegiatan di Sirnagalih menjadi ruang belajar yang mengajarkan nilai kemanusiaan dari akar rumput.
“Kalau bicara HAM, jangan dimulai dari gedung besar. Mulailah dari desa, dari ruang kecil tempat masyarakat belajar saling menghargai. Di situlah nilai kemanusiaan tumbuh secara alami,” tutur Zidan.
Dialog siang itu ditutup dengan satu kesepahaman bahwa kerja kemanusiaan memang tak akan pernah selesai, tapi selalu bisa dimulai dari langkah kecil. Dari Sirnagalih, nilai-nilai HAM kembali digelorakan sebagai pengingat bahwa hak asasi bukan milik segelintir orang, melainkan hak setiap warga untuk hidup dengan martabat dan keadilan.