Kakanwil Kementerian HAM Jawa Barat Apresiasi Kelas Jurnalis HAM Muda: Pers dan Generasi Muda Jadi Pilar Perlindungan HAM Era Digital
Bandung, 21 Mei 2026 — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Barat, Hasbullah Fudail, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan kegiatan Kelas Jurnalis HAM Muda yang digelar di Green Resort Bandung, Kamis (21/5/2026). Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap isu-isu hak asasi manusia yang terus berkembang di era digital dan globalisasi.
Dalam tanggapannya, Hasbullah Fudail menilai materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut sangat relevan dengan tantangan HAM kontemporer, khususnya terkait perkembangan hak-hak baru abad ke-21 seperti hak digital, perlindungan data pribadi, right to be forgotten, neuro rights, hingga hak atas lingkungan hidup yang sehat dan lestari. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan kesadaran etika, demokrasi, dan perlindungan HAM.
“Kelas Jurnalis HAM Muda ini bukan hanya ruang belajar jurnalistik, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran kritis generasi muda terhadap isu-isu kemanusiaan yang berkembang sangat cepat di era digital. Anak muda hari ini harus mampu menjadi penyambung suara masyarakat sekaligus penjaga nilai-nilai hak asasi manusia,” ujar Hasbullah.
Ia menyoroti bahwa saat ini HAM tidak lagi hanya berbicara mengenai hak sipil dan politik semata, tetapi juga telah berkembang ke ranah digital dan teknologi. Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa hak asasi manusia kini berlaku baik di ruang offline maupun online, termasuk perlindungan terhadap privasi digital, kebebasan berekspresi di internet, hingga perlindungan data pribadi.
Menurut Hasbullah, fenomena eksploitasi data pribadi, penyadapan digital, penyalahgunaan teknologi pengawasan (surveillance), hingga manipulasi informasi menjadi tantangan nyata yang harus dipahami generasi muda, khususnya calon jurnalis dan pegiat media sosial.
“Pers dan jurnalisme muda memiliki peran penting dalam menjaga ruang digital tetap sehat, demokratis, dan berkeadaban. Kebebasan berekspresi harus tetap dijaga, namun dibarengi tanggung jawab moral, penghormatan terhadap privasi, serta keberpihakan pada nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi pembahasan mengenai right to be forgotten dan perlindungan privasi dalam revisi Undang-Undang HAM Indonesia. Menurutnya, perkembangan regulasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mulai bergerak mengikuti dinamika standar HAM internasional di era digital.
Selain isu digital, Hasbullah turut menekankan pentingnya kesadaran lingkungan sebagai bagian dari HAM modern. Ia menyebut bahwa hak atas lingkungan hidup yang sehat kini telah menjadi perhatian global dan harus menjadi kesadaran bersama generasi muda.
“Krisis lingkungan, perubahan iklim, dan kerusakan ekologi bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan hak asasi manusia. Karena itu, anak muda harus hadir menjadi agen perubahan yang membawa perspektif keberlanjutan dan keadilan ekologis,” katanya.
Ia berharap kegiatan seperti Kelas Jurnalis HAM Muda dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan mampu melahirkan generasi jurnalis muda yang kritis, berintegritas, serta memiliki perspektif HAM yang kuat dalam menyampaikan informasi kepada publik.
“Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sensitivitas kemanusiaan. Saya percaya, forum seperti ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan masa depan demokrasi dan perlindungan HAM di Indonesia,” pungkasnya.