500 Santri Al-Ma'soem Siap Jadi Role Model Pelajar Inklusif dalam Penguatan HAM dari Kanwil KemenHAM
Pimpinan Pondok Pessantren Al-Ma'soem Asep siap berkolaborasi dengan Kanwil Kementerian HAM Jawa Barat dalam menjadikan Pondok Al-Ma'soem sebagai Role Model Sebagai Pendidikan Ramah HAM di Kabupaten Bandung.
Kakanwil KemenHAM Jawa Barat Hasbullah Fudail mengharapkan agar santri Almashoem bisa menjadi teladan (role model) dalam membumikan HAM dikalangan pelajar khususnya para santri yang ada di Jawa Barat. Demikian disampaikan Hasbullaah dalam Penguatan kapasitas ham bagi masyarakat unsur pelajar pesantren Al-Masoem (sekitar 500 santri) , Sabtu, 07 Maret 2026, Tempat : Masjid Pesantren Al-Ma'soem.
Dalam arahannya, Hasbullah menegaskan bahwa hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada setiap individu sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari martabat kemanusiaan. Beliau juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap keterkaitan antara hukum dan HAM, sehingga para pelajar diharapkan mampu memahami, menghormati, serta menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Jawa Barat melaksanakan kegiatan Penguatan Kapasitas Hak Asasi Manusia (HAM) bagi pelajar di Pesantren Al-Ma'soem Jatinangor. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 500 siswa dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai dan prinsip HAM, khususnya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Kegiatan dibuka dan dipandu oleh MC dari siswa Pesantren Al-Ma'soem sehingga rangkaian acara dapat berlangsung tertib, efektif, dan partisipatif. Dalam sambutannya, Pimpinan Pesantren Al-Ma'soem menyampaikan apresiasi kepada Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat atas terselenggaranya kegiatan penguatan kapasitas HAM yang dinilai penting dalam membentuk karakter serta kesadaran siswa terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Materi pertama bertema “Sukses Tanpa Melanggar HAM” disampaikan oleh Kepala Bidang Instrumen dan Penguatan HAM, Petrus Polus Jadu. Dalam pemaparannya, disampaikan mengenai prinsip-prinsip dasar HAM yang relevan dengan kehidupan pelajar, khususnya terkait pemahaman mengenai hak dan kewajiban di lingkungan sekolah. Selain itu, ditekankan pula pentingnya penerapan prinsip non-diskriminasi, mengingat setiap individu memiliki latar belakang yang beragam baik dari sisi suku, budaya, maupun kondisi sosial. Oleh karena itu, para pelajar diharapkan mampu menumbuhkan sikap saling menghormati serta tidak melakukan tindakan diskriminatif dalam lingkungan belajar.
Materi kedua bertema “Habis Bully Terbitlah Empati” disampaikan oleh Irfan Nurhakim dari PeaceGeneration. Dalam sesi ini, peserta diberikan pemahaman mengenai dampak perundungan (bullying) baik secara fisik maupun psikologis. Narasumber juga menekankan pentingnya membangun empati, solidaritas, serta budaya saling menghargai di lingkungan sekolah. Selain itu, siswa diajak memahami perbedaan antara konflik dan perundungan serta bagaimana cara menghindari dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif sehingga peserta dapat merefleksikan pengalaman serta mendorong komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
Melalui kegiatan penguatan kapasitas HAM ini, diharapkan para pelajar dapat meningkatkan pemahaman serta kesadaran terhadap pentingnya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini sehingga para siswa mampu menjadi generasi yang berintegritas, berempati, serta menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

