KOPPETA HAM Jawa Barat Hadiri Indonesia Dyslexia Summit 2026, Dorong Penguatan Pendidikan Inklusif Berbasis Hak Asasi Manusia
KOPPETA HAM Jawa Barat Hadiri Indonesia Dyslexia Summit 2026, Dorong Penguatan Pendidikan Inklusif Berbasis Hak Asasi Manusia
Bandung, 21 Juni 2026 — Komunitas Pemuda Pelajar Pencinta Hak Asasi Manusia (KOPPETA HAM) Jawa Barat turut menghadiri kegiatan Indonesia Dyslexia Summit 2026 yang diselenggarakan di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, pada Minggu (21/6). Kehadiran KOPPETA HAM Jawa Barat dipimpin oleh Ketua KOPPETA HAM Jawa Barat, Hamka Fadilah Rajab, sebagai bentuk komitmen generasi muda dalam mendukung penguatan pendidikan inklusif dan pemenuhan hak asasi manusia bagi setiap anak.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Barat Hasbullah Fudail, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Katolik Parahyangan Prof. Dr. Ir. Henky Muljana, S.T., M.Eng., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Anuncius Gumawang Jati, M.A., Pimpinan Yayasan Lentera Insan Kreatif Laurentia Mira, S.H., Dipl. Montessori, para akademisi, tenaga pendidik, pemerhati pendidikan, orang tua, serta berbagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu pendidikan inklusif.
Dalam forum tersebut, Kakanwil Kementerian HAM Jawa Barat menyoroti temuan bahwa sekitar 49 persen anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) terindikasi mengalami disleksia. Temuan tersebut menjadi perhatian penting karena menunjukkan perlunya deteksi dini, asesmen yang komprehensif, serta penguatan sistem pendidikan inklusif agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensinya.
Bagi KOPPETA HAM Jawa Barat, isu disleksia tidak hanya berkaitan dengan dunia pendidikan, tetapi juga merupakan bagian dari pemenuhan hak asasi manusia. Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang adil, bebas dari diskriminasi, serta mendapatkan dukungan sesuai dengan kebutuhan belajarnya tanpa adanya stigma dari lingkungan sekitar.
Melalui keikutsertaan dalam Indonesia Dyslexia Summit 2026, KOPPETA HAM Jawa Barat berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya pendidikan inklusif serta mampu menjadi agen perubahan dalam membangun lingkungan yang lebih ramah, inklusif, dan menghormati keberagaman kemampuan setiap anak.
KOPPETA HAM Jawa Barat juga menyatakan komitmennya untuk terus berkolaborasi bersama Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong edukasi hak asasi manusia, khususnya terkait pemenuhan hak anak atas pendidikan yang inklusif. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap isu disleksia semakin meningkat sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan belajar maupun memperoleh perlakuan yang setara hanya karena memiliki cara belajar yang berbeda.


