Kanwil KemenHAM Jabar Di Hadapan Ahmadiyah Perlu Membangun Dialog Humanis
Bandung, Selasa (21 Oktober 2025) — Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) Jawa Barat menerima kunjungan silaturahmi dari pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kota Bandung di kantor wilayah yang beralamat di Jl. Jakarta No.27, Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam membangun ruang komunikasi antara pemerintah dan komunitas Ahmadiyah guna memperkuat pemahaman kebebasan beragama, kemanusiaan, dan toleransi di Jawa Barat.
Kepala Kantor Wilayah KemenHAM Jawa Barat, Hasbullah Fudail, menyambut langsung para pengurus Ahmadiyah Bandung di ruang kerjanya. Dalam pertemuan tersebut, Hasbullah mengaku baru pertama kali menerima kunjungan dari Ahmadiyah Bandung, meski sebelumnya telah berinteraksi dengan Ahmadiyah dari Manislor Kuningan, Sukabumi, hingga Parung Bogor.
Sebagai putra Bugis, Hasbullah menekankan nilai kemanusiaan universal bahwa semua manusia adalah saudara tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan. Ia juga menegaskan pentingnya membuka komunikasi antarumat untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat berkembang menjadi konflik sosial di masa depan.
Pihak Ahmadiyah menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk menjalin komunikasi yang lebih erat dengan KemenHAM Jawa Barat sekaligus melaporkan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan yang telah dilakukan, di antaranya donor darah, donor mata, serta program penanaman 100 ribu pohon yang telah dimulai pada akhir pekan lalu.
Ahmadiyah Bandung sendiri memiliki empat cabang, yaitu Bandung Tengah, Bandung Kulon (berdiri sejak 1946–1947), Bandung Wetan–Arcamanik, dan Ciwastra. Mereka menuturkan bahwa meski kerap menghadapi stigma, Ahmadiyah terus berkomitmen menjalankan kegiatan sosial dan menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
Hasbullah mengapresiasi langkah-langkah tersebut dan menyebut bahwa perubahan cara pandang masyarakat terhadap kelompok Ahmadiyah kini semakin terbuka. Menurutnya, dialog dan keterlibatan aktif dalam kegiatan kemanusiaan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik.
Dalam kesempatan itu, Kabid Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Nurjaman, menyampaikan bahwa dalam tiga hingga lima tahun terakhir, peristiwa persekusi terhadap Ahmadiyah jauh menurun dibandingkan masa sebelumnya. Ia menilai hal ini sebagai tanda meningkatnya kedewasaan berpikir dan semangat moderasi umat.
Nurjaman juga mengusulkan agar program lingkungan dari Ahmadiyah dapat disinergikan dengan Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan filosofi Sunda. Saran tersebut disambut baik oleh Hasbullah yang bahkan menambahkan ide penanaman pohon berbuah di berbagai titik publik seperti rest area agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
Selain itu, Kabid Instrumen dan Penguatan HAM, Petrus Polus (Paul) Jadu, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menyatakan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat jejaring inklusif di bidang HAM dan membuka jalan bagi komunikasi lintas komunitas keagamaan di Jawa Barat.
Ahmadiyah dalam kesempatan itu juga meluruskan sejumlah kesalahpahaman publik, termasuk tafsir terhadap SKB Tiga Menteri yang sering dianggap melarang pendirian rumah ibadah. Padahal, menurut mereka, SKB tersebut hanya mengatur pelaksanaan ajaran agar sejalan dengan prinsip umum Islam, bukan melarang aktivitas keagamaan.
Hasbullah menyoroti bahwa fenomena sosial di masyarakat sering kali ironis, di mana mendirikan rumah ibadah jauh lebih sulit dibandingkan mendirikan tempat hiburan. Ia menilai perlunya keberanian dan keadilan dalam menegakkan prinsip kemanusiaan yang inklusif.
Dalam perbincangan lebih lanjut, Ahmadiyah juga menjelaskan pandangan mereka tentang Isa Al-Masih yang diyakini telah datang di akhir zaman, meski berbeda dengan pandangan arus utama Islam. Hasbullah merespons dengan menekankan bahwa semestinya umat berfokus pada persamaan nilai, bukan perbedaan tafsir keagamaan.
Ia juga mengapresiasi sistem kepemimpinan Ahmadiyah yang demokratis, di mana pemimpin (Amir) dipilih melalui musyawarah namun tidak sepenuhnya _one man one vote_. Dipilih secara mekanisme voting dan didapati 3 nama teratas, baru dipilih lah 3 nama tersebut oleh Khalifah. Hasbullah kemudian menyarankan agar Ahmadiyah memperluas jejaring komunikasi dengan komunitas Gusdurian, yang dikenal moderat dan inklusif.
Pihak Ahmadiyah menyambut baik saran tersebut. Mereka juga menyoroti semangat muda dari pimpinan nasionalnya, Zaki Firdaus Syahid, yang kini menjabat sebagai Amir Nasional pada usia 45 tahun, membawa semangat keterbukaan dan dialog.
Menutup pertemuan, Hasbullah menegaskan bahwa fokus utama yang perlu dijaga adalah misi kemanusiaan dan keterbukaan. Ia juga menginstruksikan jajarannya untuk menindaklanjuti komunikasi lintas wilayah, termasuk menghadirkan perwakilan Ahmadiyah Kuningan pada agenda berikutnya, sebagai bentuk konsistensi KemenHAM Jabar dalam membangun toleransi dan harmoni sosial di Jawa Barat.
Dalam acara ini, turut hadir Muhammad Damar Setyo Kumoro, Plt. Sekretaris Jenderal Komunitas Pemuda Pelajar Pencinta (KOPPETA) HAM Jabar sekaligus pemagang di kantor wilayah. Damar berperan sebagai dokumentasi, notulis, dan merangkai redaksi berita.