thumb
  • Admin
  • Kegiatan
  • 23 Desember 2025
  • 72

Kakanwil KemenHAM Jabar Tegaskan Pentingnya Toleransi dan Peran Negara dalam Dialog Interaktif Lintas Agama di Cianjur

Cianjur – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (Kakanwil KemenHAM) Jawa Barat, Hasbullah, menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Interaktif Bersama Pemuka Agama yang diselenggarakan oleh Koppeta Jawa Barat, bertempat di Aula Namhyun Chapel Yayasan Shema Indonesia, Sekolah Tinggi Teologi Presbyterian Shema, Kampung Jatinunggal, Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur.

 

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan umat Kristiani Ciranjang–Cianjur, Kepala Desa Sindangjaya, Ketua MUI Desa Sindangjaya, serta para audiens yang hadir dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat toleransi antarumat beragama.

 

Toleransi Beragama sebagai Nilai Kemanusiaan

 

Dalam dialog tersebut, narasumber Nartokala menegaskan bahwa toleransi beragama merupakan nilai fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menyampaikan bahwa toleransi tidak lagi semata-mata berbicara tentang perbedaan ras atau agama, melainkan tentang kemanusiaan.

 

“Toleransi beragama itu sangat penting. Toleransi berbicara tentang kemanusiaan, bukan lagi soal ras atau agama. Toleransi adalah sesuatu yang indah dan menarik. Orang yang sukses adalah orang yang mampu memanusiakan manusia,” ujar Nartokala dalam pernyataannya.

 

HAM, Toleransi, dan Peran Komunikasi Antar Tokoh Agama

 

Sementara itu, Kakanwil KemenHAM Jawa Barat, Hasbullah, menyampaikan bahwa tema dialog yang diangkat sangat relevan, terutama menjelang akhir tahun yang kerap diwarnai meningkatnya potensi konflik keagamaan.

 

“Tema ini sangat menarik, karena di akhir tahun sering kali muncul konflik-konflik keagamaan. Hak Asasi Manusia memiliki korelasi yang sangat kuat dengan toleransi, karena secara konstitusi setiap orang memiliki kebebasan untuk memeluk agama dan beribadah,” tegas Hasbullah.

 

Lebih lanjut, Hasbullah mendorong para tokoh agama untuk membangun komunikasi yang intensif dan berkelanjutan.

 

“Saya mendorong agar tokoh-tokoh agama setidaknya dapat berkumpul satu kali dalam seminggu untuk membangun komunikasi yang baik. Dari pengamatan saya, konflik sering terjadi akibat kurangnya komunikasi dan adanya ketimpangan ekonomi. Di sinilah peran negara harus hadir untuk memecahkan konflik tersebut,” tambahnya.

 

Perbedaan sebagai Sunatullah dan Kedewasaan Beragama

 

Ketua MUI Desa Sindangjaya dalam pernyataannya menekankan bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dan justru menjadi keindahan dalam kehidupan beragama.

 

“Perbedaan adalah sunatullah yang tidak bisa ditentang. Setiap orang memiliki hak untuk memeluk agamanya masing-masing. Toleransi menuntut kedewasaan, dan dengan kedewasaan itulah perbedaan akan menjadi indah,” ungkapnya.

 

Perspektif Kristiani tentang HAM dan Martabat Manusia

 

Pandangan serupa disampaikan oleh Sekretaris Umum Persatuan Umat Kristiani Kabupaten Cianjur, yang melihat HAM tidak hanya dari sudut pandang kemanusiaan, tetapi juga dari nilai-nilai ketuhanan.

 

“Dalam pandangan iman Kristiani, hak asasi manusia bukan hanya berasal dari manusia, tetapi juga dari Allah. Perbedaan agama tidak boleh dijadikan dasar penindasan. Umat Kristiani menjaga martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan,” jelasnya.

 

Peran Negara dan Generasi Muda dalam Menjaga Toleransi

 

Menanggapi peran negara dan generasi muda dalam menjaga toleransi di tengah perbedaan, Hasbullah menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk menjamin kebebasan beragama.

 

“Negara harus memenuhi tuntutan warga terkait kebebasan beragama, karena hal ini telah diatur dalam konstitusi. Negara wajib hadir dan membantu segala hal yang berkaitan dengan kebebasan beribadah,” tegasnya.

 

Ia juga mendorong generasi muda, khususnya yang tergabung dalam Koppeta, untuk memperluas wawasan dan pemahaman tentang keberagaman.

 

“Saya mendorong generasi muda untuk lebih mendalami perbedaan, memiliki cakrawala berpikir yang luas tentang toleransi dan hak asasi manusia,” tambah Hasbullah.

 

Sorotan terhadap Perekonomian Masyarakat Desa Sindangjaya

 

Menanggapi pertanyaan audiens terkait peran pemerintah dalam menyikapi perbedaan global dan kondisi perekonomian masyarakat Desa Sindangjaya, khususnya para penjual ikan, Hasbullah menyampaikan pernyataan tegas.

 

“Tidak ada cara lain, pemerintah daerah, khususnya Bupati Cianjur, harus hadir sebagai fasilitator bagi para penjual ikan. Jika negara tidak hadir, untuk apa ada pemerintah. Jangan sampai para penjual ikan terus-menerus menunggu kematian. Setidaknya ikan bisa dijadikan salah satu menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” pungkasnya.

 

Kegiatan dialog interaktif ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat nilai toleransi, mempererat komunikasi lintas agama, serta menegaskan kehadiran negara dalam menjamin hak asasi manusia dan kesejahteraan masyarakat.

 

Dialog Interaktif dengan momen yang penuh kegembiraan ditutup dengan pemberian piagam penghargaan kepada para narasumber lintas agama juga ditutup dengan kegiatan foto bersama.