thumb

Kakanwil KemenHAM Jabar Perkuat Kesadaran HAM Pelajar di SMKN 1 Cilaku dan SMK AMS Siliwangi Cianjur

CIANJUR, 14 Agustus 2026 — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Jawa Barat, Hasbullah Fudail, memberikan penguatan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada para pelajar di SMKN 1 Cilaku dan SMK AMS Siliwangi, Kabupaten Cianjur, Jumat (14/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran pelajar dalam mencegah berbagai potensi konflik di lingkungan pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan tawuran antarpelajar dan persoalan sosial yang berkembang di kalangan remaja.

Penguatan tersebut diberikan sebagai langkah preventif untuk membangun lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan ramah HAM. Sekolah memiliki posisi penting dalam membentuk karakter generasi muda, sehingga pemahaman mengenai hak dan kewajiban perlu diberikan sejak dini agar para pelajar tidak hanya mengetahui hak yang dimilikinya, tetapi juga memahami kewajiban untuk menghormati hak orang lain.

Dalam penyampaiannya, Hasbullah menyoroti fenomena tawuran antarpelajar yang masih menjadi salah satu persoalan serius di sejumlah daerah. Menurutnya, tawuran tidak dapat dipandang hanya sebagai bentuk kenakalan remaja, tetapi juga harus dilihat dari perspektif HAM karena tindakan kekerasan dapat menghilangkan rasa aman, merugikan orang lain, bahkan mengancam keselamatan dan masa depan para pelajar itu sendiri.

Para pelajar diajak memahami bahwa tidak ada alasan pembenaran untuk menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Perbedaan antarkelompok, persoalan pribadi, maupun solidaritas pertemanan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok lain.

Hasbullah juga mengingatkan agar para pelajar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan tawuran yang beredar melalui media sosial maupun komunikasi antarkelompok. Menurutnya, keberanian seorang pelajar bukan ditunjukkan dengan kemampuan melakukan kekerasan, melainkan melalui kemampuan mengendalikan diri, menyelesaikan persoalan dengan dialog, serta berani menolak ajakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Jangan sampai masa depan kalian rusak hanya karena persoalan sesaat. Sekolah harus menjadi tempat untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan, bukan tempat untuk mempertontonkan kekerasan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam penguatan tersebut.

Selain tawuran, Hasbullah turut memberikan perhatian terhadap pergaulan dan pembentukan karakter pelajar di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Para pelajar diingatkan agar memiliki ketahanan diri, berpegang teguh pada nilai agama, norma kesusilaan, serta aturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, lingkungan pendidikan harus mampu menjadi ruang pembinaan karakter sehingga para pelajar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai perilaku negatif yang berkembang di lingkungan pergaulan maupun media sosial.

Di sisi lain, Hasbullah menegaskan bahwa penghormatan terhadap HAM bukan berarti membiarkan setiap tindakan tanpa batas. Setiap orang tetap memiliki kewajiban untuk menghormati norma, aturan hukum, ketertiban umum, serta hak orang lain. Apabila terdapat dugaan pelanggaran, penyelesaiannya harus dilakukan melalui mekanisme yang tepat dan tidak dengan tindakan main hakim sendiri.

Para pelajar juga diajak memahami prinsip Pasal 28J UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain. Dengan demikian, kebebasan seseorang selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk tidak merugikan maupun melanggar hak orang lain.

Penguatan HAM tersebut juga diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa sekolah merupakan ruang bersama. Setiap siswa memiliki hak untuk belajar dengan aman, memperoleh perlakuan yang adil, terbebas dari kekerasan dan perundungan, serta mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya.

Karena itu, Hasbullah mendorong para pelajar untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan mampu menjadi pihak yang justru mencegah konflik ketika melihat adanya potensi tawuran, mengingatkan teman yang mulai terlibat dalam perilaku berisiko, serta membangun komunikasi yang lebih sehat antarkelompok pelajar.

Menurutnya, pencegahan konflik tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah atau aparat keamanan. Guru, orang tua, pelajar, pemerintah, serta masyarakat harus memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang dialog bagi para pelajar untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lingkungan sekolah dan pergaulan. Melalui dialog tersebut, pendekatan HAM diharapkan tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasbullah menekankan bahwa membumikan HAM di lingkungan pendidikan berarti membangun kebiasaan sederhana, seperti menghormati teman, tidak melakukan bullying, tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya, tidak memprovokasi kelompok lain, menyelesaikan konflik melalui musyawarah, serta berani mengatakan tidak terhadap kekerasan.

Kegiatan penguatan HAM di SMKN 1 Cilaku dan SMK AMS Siliwangi ini diharapkan menjadi langkah preventif untuk memperkuat ketahanan sosial di lingkungan pelajar Cianjur. Terlebih, sekolah yang berada pada lingkungan dengan potensi kerawanan konflik membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan penindakan, tetapi juga edukasi, pembinaan karakter, komunikasi, dan penguatan kesadaran HAM.

Melalui penguatan tersebut, KemenHAM Jawa Barat mendorong lahirnya generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, mampu mengendalikan diri, menghargai perbedaan, serta memahami bahwa menjaga hak orang lain merupakan bagian dari penghormatan terhadap dirinya sendiri.

Pada akhirnya, sekolah diharapkan menjadi ruang yang mampu mengubah potensi konflik menjadi ruang dialog dan persaudaraan. Para pelajar bukan sekadar menjadi penerima edukasi HAM, tetapi diharapkan mampu menjadi pelopor budaya damai, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap martabat manusia di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.


Klik di sini untuk melihat fitur website

Aksesibilitas

Bantuan Visual & Teks
Ukuran Teks
100%
Kontras Tinggi
Skala Abu-abu
Ramah Disleksia
Jarak Huruf
Bantuan Navigasi & Fokus
Sorot Tautan
Kursor Besar
Hentikan Animasi
Panduan Baca
Bantuan Suara (Text-to-Speech)
Baca Saat Disorot